JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026 bisa mencapai 5,5%.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 didorong oleh inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, serta tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi.
"Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3%, dan pada kuartal pertama tahun ini optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5%," ujarnya, dikutip pada Selasa (14/4/2026).
Airlangga juga menyampaikan ada faktor-faktor lain yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026. Misal, sektor manufaktur yang tetap berada di zona ekspansif dengan PMI manufaktur sebesar 50,1.
Kemudian, cadangan devisa senilai US$148,2 miliar dinilai tetap kuat, sedangkan sektor perbankan nasional tetap solid dengan rasio permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terkendali.
Menurut Airlangga, sederet capaian tersebut bakal menjadi bekal yang kuat untuk menopang perekonomian kuartal II/2026. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi pada 2026 ditargetkan sebesar 5,4%.
Dari sisi fiskal, dia menyampaikan APBN terus berfungsi sebagai bantalan ekonomi di tengah konflik geopolitik global yang mengakibatkan tingginya harga minyak dunia. Melalui APBN, pemerintah menggelontorkan bantuan pangan, diskon transportasi, subsidi bahan bakar, dan kompensasi senilai sekitar Rp11,92 triliun.
Meski belanja negara meningkat, defisit APBN tetap terjaga rendah di level 0,93% terhadap PDB pada kuartal I/2026.
Sementara itu, kenaikan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium turut melindungi ekonomi dari tekanan yang bersumber dari sektor migas. Kinerja ekspor komoditas tersebut mencapai US$47 miliar.
Dalam menghadapi tekanan eksternal tersebut, pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Airlangga menjelaskan keputusan tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga menyiapkan cadangan fiskal yang memadai sehingga kebijakan harga energi dapat dievaluasi secara berkala sesuai perkembangan global. Sementara itu, komitmen penanaman modal asing digenjot terutama pada proyek strategis seperti energi, semikonduktor, dan pusat data.
"Indonesia memiliki lahan, harga energi yang kompetitif, dan energi bersih. Harga air kita juga kompetitif. Jadi, sebagian besar perusahaan AS atau regional seperti China, berkomitmen untuk berinvestasi di pusat data Indonesia," tuturnya. (dik)
