JAKARTA, DDTCNews - Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN pada kuartal I/2026 senilai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan defisit APBN terjadi karena realisasi pendapatan negara senilai Rp574,9 triliun, sedangkan belanjaan negara mencapai Rp815,0 triliun. Menurutnya, defisit APBN 2026 memang tergolong besar karena pemerintah berupaya mempercepat realisasi belanja pada awal tahun.
"Jadi ketika ada defisit, masyarakat, Bapak-Bapak, dan Ibu-Ibu jangan kaget. Memang anggaran kita didesain defisit," katanya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, dikutip pada Selasa (7/4/2026).
Sebagai informasi, dalam UU APBN 2026, defisit anggaran dirancang senilai Rp689,1 triliun atau 2,68% dari PDB.
Purbaya menjelaskan pendapatan negara yang senilai Rp574,9 triliun itu mengalami pertumbuhan sebesar 10,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kinerja pendapatan negara ini utamanya ditopang oleh penerimaan pajak yang sudah realisasi Rp394,8 triliun atau tumbuh 20,7%.
Selain itu, ada penerimaan kepabeanan dan cukai yang terealisasi Rp67,9 triliun atau kontraksi 12,6%, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp112,1 triliun atau minus 3,0%.
Di sisi lain, belanja negara yang senilai Rp815,0 triliun mengalami pertumbuhan 31,4%. Belanja negara tersebut terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp610,3 triliun dan transfer ke daerah Rp204,8 triliun. Realisasi belanja pemerintah pusat tercatat melonjak 47,7%, sedangkan transfer ke daerah turun 1,1%.
Dia menyebut pertumbuhan signifikan pada pos belanja pemerintah pusat memang disengaja agar realisasinya merata sepanjang tahun.
"Itu sesuatu yang normal, tapi yang jelas kami monitor terus selama setahun akan seperti apa pendapatannya dan belanjanya seperti apa. Kami amat berhati-hati dalam mempertimbangkan hal ini," ujarnya.
Purbaya menambahkan realisasi belanja negara yang cepat pada awal tahun, terutama pos belanja kementerian/lembaga, akan menciptakan multiplier effect yang kuat terhadap perekonomian. Sejalan dengan percepatan belanja tersebut, dia meyakini pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026 setidaknya akan mencapai 5,5%.
Guna menjaga pertumbuhan ekonomi, Purbaya pada kesempatan tersebut juga memastikan kesiapan APBN dalam menjaga harga BBM bersubsidi di tengah kenaikan harga minyak dunia. Dia menjamin harga BBM bersubsidi tidak akan naik sampai akhir tahun.
Menurutnya, defisit APBN juga tidak akan jebol di atas 3% PDB karena pemberian subsidi BBM, dengan asumsi harga minyak dunia rata-rata US$100 per barel. (dik)
