KEBIJAKAN PEMERINTAH

Ada Guncangan Energi Global, Bagaimana Ketahanan RI?

Aurora K. M. Simanjuntak
Sabtu, 25 April 2026 | 13.00 WIB
Ada Guncangan Energi Global, Bagaimana Ketahanan RI?
<p>Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/bar</p>

JAKARTA, DDTCNews - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia termasuk negara yang paling kuat menghadapi guncangan energi global.

Airlangga mengatakan pendapatnya tersebut sejalan dengan laporan J.P. Morgan Asset Management bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 menyatakan Indonesia berada pada peringkat kedua dunia sebagai negara paling tahan terhadap guncangan energi global.

"Di tengah volatilitas harga energi global, posisi ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026 dan membantu melindungi daya beli masyarakat serta kelangsungan aktivitas dunia usaha," katanya, dikutip pada Sabtu (25/4/2026).

Airlangga mengatakan pemerintah telah melaksanakan berbagai upaya untuk memperkuat ketahanan energi antara lain menahan kenaikan harga bahan bakar minyak sekaligus mendorong transisi energi.

Meski mendapat pengakuan dari J.P Morgan, dia menegaskan pemerintah tidak akan lengah karena masih banyak risiko yang perlu dimitigasi.

Menurutnya, pemerintah terus memperkuat beberapa arah kebijakan seperti optimalisasi produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca migas dan memperkuat penerimaan PNBP, percepatan transisi energi melalui pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sesuai RUKN dan RUPTL.

Kemudian, pemerintah juga memperluas adopsi kendaraan listrik guna menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta melakukan diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi untuk memperkuat ketahanan terhadap risiko geopolitik.

Laporan J.P Morgan menganalisis 52 negara yang mewakili 82% pengguna energi di seluruh dunia. Indikator khusus yang digunakan ialah total insulation factor. Indikator ini mengukur kemampuan suatu negara dalam menahan volatilitas pasar energi global dengan menggunakan sumber energi di dalam negerinya.

Secara teknis, total insulation factor mengukur gabungan dari 4 faktor atau komponen utama sumber energi domestik, yaitu produksi gas, batu bara, pembangkit nuklir, dan energi terbarukan. Semua komponen ini dihitung sebagai persentase dari total energi yang benar-benar dipakai di dalam negeri (useful final energy).

Berdasarkan kalkulasi laporan tersebut, Indonesia mencatat total insulation factor sebesar 77%. Angka itu terpaut tipis di bawah Afrika Selatan (79%), tetapi berada di atas China (76%) serta Amerika Serikat (70%).

Kekuatan ketahanan energi Indonesia ditopang terutama oleh kontribusi signifikan produksi batu bara domestik yang memenuhi sekitar 48% konsumsi energi akhir nasional. Lalu, disusul dengan produksi gas bumi domestik 22%, dan energi terbarukan 7%.

Lebih lanjut, J.P. Morgan mengelompokkan Indonesia bersama China, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina sebagai negara yang memperoleh manfaat substansial dari produksi batu bara domestik pada periode guncangan energi.

Indonesia juga dinilai tidak terdampak secara langsung ketika jalur distribusi energi global di Selat Hormuz mengalami disrupsi akibat perang di Timur Tengah.

Adapun impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz hanya menyumbang sekitar 1% dari total konsumsi energi primer nasional. Angka itu jauh di bawah negara Asia Timur lainnya seperti Korea Selatan (33%), Taiwan dan Thailand (27%), serta Singapura (26%).

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.