FILIPINA

Antisipasi Lonjakan Harga Minyak, Negara Tetangga Siap Pangkas Cukai

Aurora K. M. Simanjuntak
Selasa, 03 Maret 2026 | 17.00 WIB
Antisipasi Lonjakan Harga Minyak, Negara Tetangga Siap Pangkas Cukai
<p>Ilustrasi.</p>

MANILA, DDTCNews - Pemerintah Filipina membuka opsi untuk memangkas tarif cukai bahan bakar minyak (BBM) jika harga acuan minyak mentah seperti Dubai Crude (Platts) melonjak di atas US$80 per barel. Langkah ini bertujuan mengendalikan harga BBM di dalam negeri.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menilai opsi memangkas tarif cukai minyak bumi merupakan langkah darurat pemerintah di tengah terjadinya konflik Timur Tengah. Apabila diterapkan, dia menegaskan kebijakan ini hanya akan bersifat sementara.

"Kebijakan ini sedang kami diskusikan dan harapannya hal itu akan membantu, jika saya selaku presiden diberikan wewenang untuk mengurangi cukai BBM ketika harga minyak mentah Dubai melebihi US$80 per barel," ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Marcos berharap ketegangan di Timur Tengah akan mereda sehingga pemerintah tidak perlu menerapkan langkah darurat tersebut. Dia juga menjamin negara memiliki pasokan minyak yang memadai dengan persediaan untuk 29 - 67,5 hari, tergantung produknya.

Dia menyebut persediaan solar cukup untuk 50,5 hari ke depan, sedangkan fuel oil dan bensin masing-masing cukup untuk 51,5 hari. Sementara itu, stok minyak tanah bisa bertahan 67,5 hari, bahan avtur 58 hari, dan LPG 29 hari.

"Saya meyakinkan kita memiliki pasokan minyak yang cukup. Jadi, kita baik-baik saja untuk jangka waktu tersebut," kata Marcos.

Di tengah ketegangan politik pasca-serangan AS-Israel kepada Iran, negara pemasok minyak bumi lainnya akan mempertahankan persediaan minyak masing-masing. Sejalan dengan itu, Marcos menilai negara eksportir bakal membatasi ekspornya guna melindungi cadangan minyak domestik.

Selain penurunan tarif cukai, dia berencana memberikan subsidi BBM jika harga minyak mentah melonjak hingga US$80 - US$90 per barel selama 2 bulan. Subsidi ini diberikan khusus untuk sektor transportasi, pertanian, dan nelayan guna menjaga stabilitas tarif transportasi umum dan tidak ada kenaikan harga barang dan jasa secara mendadak.

"Harga BBM atau produk minyak bumi lain tidak akan langsung naik drastis dalam waktu singkat. Jika memang perlu menaikkan harga, kenaikannya akan perlahan supaya tidak membebani masyarakat," tutur Marco.

Sementara itu, para senator memberikan dukungan terhadap rencana Marcos untuk menangguhkan atau mengurangi cukai BBM jika harga minyak global mencapai US$80 per barel.

Pemimpin Mayoritas Senat Juan Miguel Zubiri mengatakan pemberian wewenang kepada presiden untuk menurunkan cukai akan membantu melindungi konsumen dari dampak kenaikan harga BBM. Sebab, kenaikan BBM berpotensi mengerek harga makanan, transportasi, dan listrik.

"Langkah itu pasti akan membantu mengurangi dampak tingginya biaya bahan bakar akibat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah," kata Zubiri dilansir pna.gov.ph.

Sebagai informasi, Filipina memungut cukai atas 12 produk minyak dan gas bumi yang mencakup oli dan pelumas, gas olahan, lilin dan petroleum jelly, nafta, dan bensin premium bertimbal.

Kemudian, cukai juga dikenakan atas avtur, minyak tanah, solar dan bahan bakar sejenisnya, LPG, aspal, dan bahan bakar minyak bunker untuk kapal laut. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.