JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah berpotensi menghemat anggaran belanja negara sekitar Rp20 triliun dengan melaksanakan efisiensi anggaran pada program makan bergizi gratis (MBG).
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan efisiensi program MBG ditempuh dengan cara memangkas frekuensi penyaluran makanan ke sebagian besar wilayah di Indonesia, dari semula 6 hari menjadi 5 hari dalam sepekan.
"Potensi penghematan dari kegiatan ini mencapai Rp20 triliun," katanya, dikutip pada Kamis (2/4/2026).
Namun demikian, lanjut Airlangga, ketentuan baru tersebut tidak berlaku untuk penyaluran MBG ke 3 tempat, yaitu asrama, daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), serta kawasan dengan angka stunting yang tinggi.
Efisiensi anggaran juga tidak hanya dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN), seluruh kementerian dan lembaga juga didorong untuk melakukan efisiensi, sekaligus refocusing belanja di instansinya masing-masing.
"Pemerintah melakukan langkah strategis dalam mengelola keuangan negara melalui refocusing belanja kementerian dan lembaga," tutur Airlangga.
Airlangga menjelaskan refocusing belanja dilakukan dengan cara memangkas program nonprioritas seperti perjalanan dinas, rapat, belanja non-operasional, dan kegiatan seremonial.
Menurutnya, anggaran untuk sederet kegiatan tersebut akan dialihkan untuk program yang mendorong produktivitas dan berdampak langsung bagi masyarakat, termasuk untuk rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah yang terkena bencana di Sumatera.
Dia pun menambahkan bahwa langkah efisiensi anggaran itu bertujuan untuk menjaga kinerja APBN 2026 tetap stabil dan defisit anggaran tidak melebar, terutama di tengah tren kenaikan harga minyak dunia.
"Upaya refocusing anggaran kementerian dan lembaga ini [menghemat belanja APBN] dalam range Rp121,2 triliun hingga Rp130,2 triliun," ujar Airlangga. (rig)
