JAKARTA, DDTCNews - Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) memandang bahwa alat pemindai peti kemas X-ray dengan menggunakan fasilitas G-Scan milik Indonesia dinilai lebih unggul daripada Korea Selatan.
Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa DJBC Nirwala Dwi Heryanto mengatakan teknologi G-Scan yang digunakan di Indonesia bisa memeriksa muatan truk kontainer 10 kali lebih cepat dibandingkan alat pemindai dari Korea Selatan.
"Sebagai pembanding, saya kemarin baru dapat undangan dari Customs Korea, X-ray-nya Indonesia itu lebih canggih lho. Jadi, dengan menggunakan G-Scan, sopir enggak perlu turun, kecepatan truk berjalan antara 15-20 km/jam sudah bisa dipindai," ujarnya, dikutip pada Minggu (12/4/2026).
Nirwala menjelaskan alat X-ray yang diterapkan di Indonesia memiliki kemampuan memindai isi truk kontainer 40 feet yang sedang berjalan dalam waktu 1 menit. Selain proses yang cepat, alat canggih tersebut juga tingkat radiasinya rendah.
Sementara itu, alat pemindai milik Korea Selatan membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk mengecek 1 unit kontainer. Dalam proses pemindaian, pengemudi truk juga harus turun agar tidak terpapar radiasi yang tinggi.
"Di kita 'kan sampai sopir enggak perlu turun berarti radiasinya sangat rendah, di bawah ambang batas. Tapi hasilnya bisa lebih akurat karena dianalisis 360 derajat, bisa diputar-putar [hasil scan]," kata Nirwala.
Dengan menggunakan teknologi canggih, Nirwala menjamin proses pemeriksaan barang ekspor dan impor akan lebih efektif dan efisien. Adapun x-ray tersebut sudah dipasang di 2 pelabuhan, yakni Tanjung Priok dan Tanjung Perak.
Selain X-ray, DJBC juga menerapkan sistem pengawasan impor berbasis artificial intelligence (AI) bernama Trade AI di Pelabuhan Tanjung Priok. Sistem itu terus dikembangkan agar makin cerdas dan akurat untuk menangkal praktik under-invoicing dan mempercepat pelayanan kepada para pengguna jasa.
"Seperti itulah, inovasi-inovasi kita sedang dalam proses pelaksanaan, dan kita punya 63 quick wins. Jadi, ruang-ruang perbaikan akan terus kita explore, mana yang masih perlu dan bisa diperbaiki," ucap Nirwala. (rig)
