JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah meraup dana senilai Rp14,44 triliun dari penerbitan 2 produk surat berharga negara (SBN) ritel jenis Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029.
Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menyatakan penjualan ORI029 ini terdiri atas seri ORI029T3 senilai Rp10,95 triliun dan seri ORI029T6 sebesar Rp3,48 triliun. Penerbitan ORI029 menjadi bagian dari strategi pembiayaan APBN 2026.
"Seluruh dana yang diperoleh dari hasil penerbitan ORI029 digunakan untuk pemenuhan target pembiayaan APBN tahun 2026," bunyi keterangan DJPPR, dikutip pada Rabu (25/2/2026).
Pemerintah menawarkan ORI029 kepada masyarakat pada periode 26 Januari hingga 19 Februari 2026. Kupon ORI029T3 dan ORI029T6 bersifat tetap (fixed rate), masing-masing sebesar 5,45% dan 5,80% per tahun.
Penetapan kupon tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar sekunder yang stabil, tren suku bunga domestik yang menurun, dan inflasi yang terjaga. Dengan demikian, ORI029 masih menjadi pilihan investasi yang menarik dan kompetitif bagi masyarakat.
Penjualan ORI029T3 dan ORI029T6 didukung dengan campaign dan edukasi mengenai literasi keuangan dan investasi SBN ritel kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan baik daring, luring, maupun hybrid.
"Optimalisasi media sosial juga dilakukan untuk memperluas informasi investasi ORI029," tulis DJPPR.
Total investor ORI029 mencapai 42.612 investor, terdiri atas 33.240 investor pada seri ORI029T3 dan 11.928 investor pada seri ORI029T6.
Perlu diketahui, salah satu keuntungan apabila berinvestasi pada SBN adalah tarif pajak yang lebih rendah. Melalui PP 9/2021, pemerintah telah menurunkan tarif PPh final yang dikenakan atas bunga SBN yang diterima oleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri.
Tarif pajak yang sebelumnya 15% kini ditetapkan sebesar 10%. Sementara jika dibandingkan dengan instrumen investasi lain seperti deposito, tarif PPh final atas bunganya mencapai 20%. (dik)
