KEUANGAN NEGARA

Prabowo: Indonesia Tak Pernah Gagal Bayar Utang

Muhamad Wildan
Kamis, 19 Februari 2026 | 17.30 WIB
Prabowo: Indonesia Tak Pernah Gagal Bayar Utang
<p>Presiden Prabowo Subianto dalam&nbsp;<em>Gala Iftar Dinner Business Summit </em>yang diselenggarakan U.S. Chamber of Commerce di&nbsp;Washington, D.C., Amerika Serikat, Rabu (18/2/2026).</p>

WASHINGTON D.C., DDTCNews - Presiden Prabowo Subianto mengeklaim Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk menanggung seluruh utang pemerintah.

Dalam Gala Iftar Dinner Business Summit yang diselenggarakan U.S. Chamber of Commerce, Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak pernah gagal membayar utang.

"Pemerintahan berikutnya selalu menghormati utang-utang dari pemerintahan sebelumnya, meski mungkin mereka adalah lawan yang sangat kuat satu sama lain. Tradisi dari masyarakat kami adalah menghormati kewajiban," ujar Prabowo, dikutip pada Kamis (19/2/2026).

Sebagai informasi, posisi utang pemerintah per 31 Desember 2025 tercatat senilai Rp9.637,9 triliun. Dengan PDB pada 2025 yang mencapai Rp23.821,1 triliun, rasio utang pada 2025 adalah sebesar 40,46% dari PDB.

Dengan demikian, Indonesia mencatatkan kenaikan rasio utang bila dibandingkan dengan 2024. Rasio utang pada 2024 adalah sebesar 39,36% dari PDB.

Lonjakan rasio utang pemerintah tak terlepas dari lebarnya defisit APBN 2025, yakni senilai Rp695,1 triliun atau 2,92% dari PDB. Defisit dimaksud lebih lebar bila dibandingkan dengan target pada APBN 2025 yang senilai Rp616,2 triliun atau 2,59% dari PDB.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya mengatakan rasio utang dan defisit anggaran masih lebih rendah lebih rendah bila dibandingkan dengan batas yang ditetapkan, yakni sebesar 60% dari PDB untuk rasio utang dan 3% dari PDB untuk defisit anggaran.

Purbaya pun berkomitmen untuk menjaga defisit anggaran tetap di bawah 3% dari PDB dengan meningkatkan penerimaan perpajakan. Dengan penerimaan yang lebih tinggi, pemerintah bisa meningkatkan belanja tanpa perlu memperlebar defisit.

"Saya enggak akan melewati batas [defisit APBN] yang 3% itu, karena kan saya bisa hitung. Misal, prediksi pajak saya sampai akhir tahun berapa dengan data yang ada ya harusnya makin clear. Saya bisa hitung berapa anggaran yang bisa saya kurangi, jadi masalah defisit itu sesuatu yang bisa kita kontrol," ucap Purbaya pada 12 Februari 2026. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.