FILIPINA

Negara Ini Kecualikan Ribuan Obat dari PPN, Kualitas Kesehatan Membaik

Redaksi DDTCNews
Sabtu, 11 April 2026 | 14.30 WIB
Negara Ini Kecualikan Ribuan Obat dari PPN, Kualitas Kesehatan Membaik
<p>Ilustrasi.</p>

MANILA, DDTCNews - Pemerintah Filipina telah memperluas cakupan obat-obatan yang dikecualikan dari pengenaan PPN menjadi 2.263 jenis obat.

Pengecualian PPN antara lain diberikan untuk obat hipertensi, kanker, serta penyakit mental. Pemberian fasilitas PPN ini bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

"Ini adalah daftar terbaru obat-obatan yang dikecualikan dari PPN, yang akan menjangkau berbagai jenis penyakit," kata kepala otoritas pajak Charlito Mendoza," dikutip pada Sabtu (11/4/2026).

Otoritas pajak terus memperbarui daftar jenis obat yang diberikan pengecualian PPN. Penetapan jenis obat tersebut harus terlebih dahulu disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dari Kementerian Kesehatan.

Pengecualian PPN untuk obat-obatan tersebut diberikan berdasarkan UU Lansia dan UU Reformasi Perpajakan untuk Percepatan dan Inklusi.

Pemerintah memberikan fasilitas pembebasan PPN untuk obat-obatan sejak Januari 2019. Pada awalnya, obat yang memperoleh fasilitas adalah untuk penyakit kardiovaskular dan diabetes, tetapi kini makin diperluas untuk jenis penyakit lainnya.

Otoritas menyatakan pasien kanker akan mendapatkan manfaat terbesar dari fasilitas pengecualian PPN untuk obat-obatan. Saat ini, ada 702 jenis obat kanker yang sudah tercakup dalam pengecualian PPN.

Obat hipertensi berada di urutan kedua dengan 535 jenis obat yang diberikan pengecualian PPN, sementara diabetes ada di posisi ketiga dengan 327 jenis obat.

Selain itu, pemerintah juga memberikan pengecualian PPN untuk 300 jenis obat penyakit mental. Kesadaran masyarakat Filipina terhadap penyakit mental dilaporkan meningkat, tetapi dukungan kesehatan yang tersedia masih terbatas.

World Health Organization (WHO) mencatat Filipina sebagai salah satu negara dengan tingkat depresi tertinggi pada 2017, yakni mencapai 3,3 juta orang. WHO memperkirakan pada 2030, depresi akan menjadi penyumbang utama beban penyakit global.

Di tengah gejolak geopolitik global, pemerintah menegaskan tidak ada kenaikan harga obat-obatan hingga Juni 2026. Menteri Kesehatan Ted Herbosa mengatakan perusahaan farmasi telah berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga obat walaupun stoknya terbatas.

Apabila industri obat mulai mengimpor bahan baku lagi, kemungkinan harganya akan lebih mahal seiring dengan kenaikan biaya logistik.

"Perusahaan farmasi berjanji tidak akan ada kenaikan harga. Obat-obatan tidak melewati Selat Hormuz..., tapi ini hanya berlaku sampai Juni," kata Herbosa dilansir philstar.com. (dik)

Editor : Dian Kurniati
Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.