JAKARTA, DDTCNews – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menerbitkan Keputusan Gubernur 164/2026. Keputusan ini mengatur jangka waktu dan batas waktu pembayaran/penyetoran pajak daerah di DKI Jakarta.
Ketentuan tersebut perlu diperhatikan agar wajib pajak tidak terkena sanksi akibat keterlambatan pembayaran/penyetoran pajak daerah.
“... bahwa untuk memberikan kepastian hukum mengenai jangka waktu dan batas waktu pembayaran atau penyetoran pajak daerah,” bunyi pertimbangan keputusan tersebut, dikutip pada Minggu (3/5/2026).
Merujuk keputusan tersebut, jangka waktu pembayaran/penyetoran pajak daerah terbagi menjadi 2 kelompok. Pertama, jangka waktu pembayaran/penyetoran pajak yang dipungut berdasarkan penetapan gubernur (official assesment).
Kedua, jangka waktu pembayaran/penyetoran pajak yang dipungut berdasarkan penghitungan sendiri oleh wajib pajak (self assement). Merujuk Keputusan Gubernur 164/2026 dan laman resmi Bapenda DKI Jakarta, berikut perincian ketentuannya:
Pajak yang dipungut berdasarkan penetapan gubernur adalah jenis pajak yang besarannya dihitung/ditetapkan oleh pemerintah daerah. Besaran pajak tersebut biasanya tertuang dan ditagih melalui 2 jenis surat, yaitu: Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD) dan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT).
Batas waktu pembayaran/penyetoran pajak yang dipungut berdasarkan penetapan gubernur (official assesment) adalah sebagai berikut:
Adapun pembayaran PKB maksimal dilakukan: (i) 14 hari sejak surat ketetapan kewajiban pembayaran (SKKP) dikirim, untuk kendaraan baru; (i) maksimal tanggal berakhirnya amsa pajak (tercantum dalam STNK).
Pajak yang dipungut berdasarkan penghitungan sendiri oleh wajib pajak adalah jenis pajak yang harus dihitung, disetor, dan dilaporkan sendiri oleh wajib pajak (self assesment). Batas waktu pembayaran/penyetoran pajak yang dipungut berdasarkan penghitungan sendiri oleh wajib pajak adalah sebagai berikut:
|
Jenis Pajak |
Sifat Kegiatan | ||
|
Reguler |
Insidentil | ||
|
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor |
Maksimal tanggal 10 bulan berikutnya, setelah berakhirnya masa pajak |
- | |
|
Pajak Baran dan Jasa Tertentu |
atas Tenaga Listrik |
- | |
|
|
atas Jasa Perhotelan |
- | |
|
|
atas Jasa Parkir |
- | |
|
|
Atas Makanan dan/atau Minuman |
Maksimal 10 hari kerja, setelah berakhirnya masa pajak | |
|
|
Atas Jasa Kesenian dan Hiburan | ||
Ada pula ketentuan batas waktu pembayaran/penyetoran bea perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan (BPHTB). Batas waktu pembayaran/penyetoran BPHTB bervariasi tergantung jenis perolehannya, yaitu sebagai berikut:
|
Jenis Perolehan Hak |
Batas Waktu Pembayaran |
|
Jual beli |
Saat dibuat dan ditandatanganinya akta |
|
Tukar-menukar | |
|
Hibah | |
|
Hibah wasiat | |
|
Pemasukan perseroan/badan hukum lainnya | |
|
Pemisahan hak untuk peralihan | |
|
Penggabungan usaha | |
|
Peleburan usaha | |
|
Pemekaran usaha | |
|
Hadiah | |
|
Waris |
Saat penerima (atau yang diberi kuasa) mendaftarkan peralihan haknya |
|
Putusan Hakim |
Saat tanggal putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum dikeluarkan |
|
Pemberian hak baru atas pelepasan hak |
Saat diterbitkannya surat keputusan pemberian hak |
|
Pemberian hak baru diluar pelepasan hak | |
|
Lelang |
Saat penunjukan pemenang lelang |
Selanjutnya, apabila diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDКВ), Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT), Surat Keputusan Pembetulan, atau Surat Keputusan Keberatan atau Putusan Banding karena adanya pajak yang masih harus dibayar, maka batas pembayarannya maksimal 1 bulan sejak diterbitkannya surat tersebut.
Hal lain yang perlu diperhatikan apabila jatuh tempo pembayaran/penyetoran bertepatan dengan hari libur seperti hari Sabtu, Minggu, hari libur nasional, maupun cuti bersama yang ditetapkan oleh pemerintah, maka pembayaran ditetapkan pada hari kerja berikutnya. (sap)
