JAKARTA, DDTCNews - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai 4,8% pada tahun ini, lebih rendah ketimbang proyeksi sebelumnya yang sebesar 5%.
Proyeksi dimaksud juga lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada 2025 yang mencapai 5,11%. Meski lebih rendah, OECD memandang laju pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif stabil.
"Di Indonesia, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan tetap stabil karena adanya stimulus fiskal yang mendukung pertumbuhan konsumsi," tulis OECD dalam Economic Outlook edisi Maret 2026, dikutip pada Kamis (26/3/2026).
Sementara itu, inflasi Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai 3,4% pada 2026 akibat kenaikan harga energi dan akan melandai ke level 2,6% pada 2027. "Inflasi akan melambat pada 2027 di negara berkembang, termasuk Brasil, Indonesia, Meksiko, dan Afrika Selatan," tulis OECD.
Ke depan, OECD menyarankan negara-negara untuk menyiapkan kebijakan fiskal guna mendukung rumah tangga dan bisnis di tengah kenaikan biaya energi akibat perang di Timur Tengah.
Kebijakan baru yang diterapkan harus berfokus pada rumah tangga dan sektor bisnis yang paling membutuhkan serta harus memiliki jangka waktu yang jelas.
Fasilitas-fasilitas seperti subsidi yang bersifat umum dan pengurangan pajak memang mudah diterapkan, tetapi kebijakan semacam ini bakal membebani postur fiskal dan melemahkan insentif untuk pengurangan penggunaan energi fosil.
Penyesuaian kebijakan fiskal harus berlandaskan pada rencana jangka menengah yang berfokus pada upaya penguatan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dan perlindungan bagi mereka yang membutuhkan.
Pengendalian belanja dan peningkatan efisiensi sektor publik amat diperlukan guna membatasi kebutuhan untuk meningkatkan pajak. Namun, pemerintah perlu meningkatkan penerimaan pajak melalui perluasan basis dan peningkatan kepatuhan dalam hal terdapat ruang untuk menempuh langkah tersebut. (rig)
