JAKARTA, DDTCNews - Pejabat bea dan cukai dapat menerbitkan surat paksa apabila pengguna jasa tak kunjung membayar utang kepabeanan dan cukai.
Melalui PMK 115/2024, pemerintah antara lain telah menyempurnakan ketentuan penagihan utang kepabeanan dan cukai. Salah satu mekanisme dalam penagihan tersebut adalah melalui penerbitan surat paksa.
"Surat paksa adalah surat perintah membayar utang dan biaya penagihan," bunyi Pasal 1 angka 19 PMK 115/2024, dikutip pada Selasa (10/2/2026).
PMK 115/2024 menyatakan surat paksa diterbitkan oleh pejabat berwenang apabila terjadi 3 kondisi. Pertama, utang tidak dilunasi oleh pihak yang terutang setelah 21 hari terhitung sejak tanggal diterbitkan surat teguran.
Kedua, terhadap pihak yang terutang telah dilaksanakan penagihan seketika dan sekaligus. Ketiga, pihak yang terutang tidak memenuhi ketentuan pembayaran sebagaimana tercantum dalam keputusan dirjen bea dan cukai mengenai persetujuan penundaan atau pengangsuran utang.
Surat paksa yang diterbitkan tersebut didasarkan pada sisa pokok utang ditambah bunga.
Dalam hal terdapat keputusan dirjen bea dan cukai mengenai persetujuan penundaan atau pengangsuran utang, maka surat paksa tidak diterbitkan atau dibatalkan apabila telah diterbitkan.
Juru sita akan memberitahukan surat paksa dengan pernyataan dan menyerahkan salinan surat paksa. Apabila pihak yang terutang menolak untuk menerima surat paksa, juru sita akan meninggalkan surat paksa dan mencatatnya dalam berita acara.
Tindak lanjut jika utang kepabeanan dan cukai tetap tidak dibayar adalah penerbitan surat perintah penyitaan. Surat perintah penyitaan ini diterbitkan oleh pejabat bea dan cukai apabila utang tidak dibayar dalam waktu 2 × 24 jam setelah pemberitahuan surat paksa. (dik)
