BUKU PEMIKIRAN 100 EKONOM INDONESIA

Buku 100 Ekonom RI: Founder DDTC Ungkap 4 Masalah Fundamental Pajak

Redaksi DDTCNews
Senin, 26 Januari 2026 | 11.45 WIB
Buku 100 Ekonom RI: Founder DDTC Ungkap 4 Masalah Fundamental Pajak
<p>Dalam &#39;Pemikiran 100 Ekonom Indonesia&#39;, Darussalam menulis sebuah artikel berjudul <strong><em>Empat Langkah Permasalahan Fundamental Sistem Pajak di Indonesia</em></strong>. Buku tersebut bisa diakses publik melalui laman <strong><a href="https://indef.or.id/book/pemikiran-100-ekonom-indonesia-resiliensi-ekonomi-domestik-sebagai-fondasi-meenghadapi-gejolak-dunia/" target="_blank">berikut ini</a></strong>.</p>

JAKARTA, DDTCNews - Tahun 2025 berlalu dengan meninggalkan berbagai tantangan bagi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang belum bisa melesat, risiko inflasi yang membayangi, hingga nilai tukar rupiah yang berfluktuasi, semuanya masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Untuk mengatasi beragam tantangan tersebut, pemerintah melakukan berbagai upaya kebijakan, baik dari sisi fiskal, moneter, atau keuangan. Namun, pelaksanaan seluruh kebijakan itu perlu dikawal agar memberikan dampak optimal bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Guna memberikan dukungan terhadap upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengumpulkan 100 ekonom Indonesia untuk menyumbangkan buah pikirannya. Seluruh ekonom itu turut memberikan gagasannya dalam mengurai beragam tantangan perekonomian nasional.

Gagasan dan rekomendasi para pakar itu kemudian dituangkan dalam buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia: Resiliensi Ekonomi Domestik sebagai Fondasi Menghadapi Gejolak Dunia. Founder DDTC Darussalam merupakan salah satu ekonom yang didapuk untuk menyumbangkan pemikirannya di bidang pajak.

Dalam 'Pemikiran 100 Ekonom Indonesia', Darussalam menulis sebuah artikel berjudul Empat Permasalahan Fundamental Sistem Pajak di Indonesia. Buku tersebut bisa diakses publik melalui laman berikut ini.

Dalam tulisannya, Darussalam mengelaborasikan 4 permasalahan fundamental yang masih mengganjal kemajuan sistem pajak nasional. Darussalam memandang, ikhtiar dan kerja keras seluruh pemangku kepentingan untuk mengatasi keempat masalah itu seyogianya akan membuat sektor pajak menjadi motor penggerak kesejahteraan Indonesia.

Apa saja 4 masalah fundamental sistem pajak RI?

Darussalam membuka tulisannya dengan mengulas masalah pertama, yakni partisipasi publik yang belum optimal. Pajak sebagai kontrak sosial antara pemerintah dan masyarakat, agaknya belum berjalan sesuai dengan prinsip tersebut.

Dalam memungut pajak, Darussalam mengutip Gribnau (2017), terdapat mekanisme resiprokal, yakni masyarakat berkontribusi melalui suatu pembayaran pajak, sedangkan pemerintah mengelola pajak yang terkumpul dengan menyediakan barang dan jasa publik kepada masyarakat.

Karenanya, berkaca pada prinsip 'kontrak sosial' itu, perlu ada partisipasi aktif dari masyarakat dalam setiap perumusan kebijakan pajak. Mengutip Tillotson (2017), kontribusi dalam mendanai pembangunan secara tidak langsung menempatkan pembayar pajak sebagai 'para pemegang saham' negara.

Selaku pemegang saham, masyarakat berhak untuk didengar dan dilibatkan.

Masalah fundamental kedua adalah edukasi pajak yang belum inklusif. Peran edukasi pajak sesungguhnya krusial, tapi kerap dilupakan. Pasalnya, hasil edukasi tidak secara langsung dapat ditransformasikan kepada penerimaan jangka pendek. Hal itu membuat edukasi pajak kerap mendapat skala prioritas yang rendah.

Sebenarnya, otoritas pajak sudah memiliki berbagai program edukasi pajak. Mulai dari Pajak Bertutur, inklusi pajak dalam muatan pembelajaran di jenjang pendidikan tertentu, pembentukan fungsional penyuluh pajak, hingga pelayanan informasi melalui berbagai platform.

Namun, Darussalam memberikan penekanan bahwa seluruh program itu harus memperoleh dukungan kuat dari pemangku kepentingan lainnya, termasuk konsultan pajak dan akademisi di perguruan tinggi. Tanpa adanya edukasi pajak yang memadai, sulit bagi pemerintah untuk mendorong kepatuhan sukarela.

Masalah ketiga, minimnya narasi kebijakan pajak. Darussalam mengutip Schumpeter (1915) yang menyebutkan bahwa pajak membantu membentuk negara dan menjamin terselenggaranya organ pemerintah lainnya. Artinya, tanpa pajak, negara tidak akan hadir atau berfungsi.

Yang menjadi masalah, menurut Darussalam, adalah selama ini pemerintah belum optimal dalam menarasikan fungsi pajak sebagai urat nadi pembangunan negara. Kenyataan yang ada justru sebaliknya, narasi yang muncul di benak publik adalah pajak sebagai beban.

Narasi positif mengenai pajak perlu dibangun untuk membangun kepatuhan sukarela. Narasi seyogianya disampaikan secara konsisten, tidak sepotong-potong, tidak bersifat ad hoc, dan berimbang. Narasi juga perlu dibarengi dengan fakta, akuntabilitas, dan transparansi dari pemerintah.

"Setiap pihak pada hakikatnya perlu diajak mendalami konsekuensi dari suatu kebijakan. Itulah resep ampuh cara memenangkan hati masyarakat," tulis Darussalam.

Terakhir, masalah keempat, adalah tantangan pengelolaan data dan informasi. Elemen ini sangat penting bagi negara yang menganut self-assessment system seperti Indonesia.

Lewat sistem ini, masyarakat diberi kepercayaan dalam menghitung, membayar, dan melaporkan pajaknya. Di sisi lain, otoritas pajak harus memiliki akses dan kemampuan untuk mengolah data atau informasi pembanding yang dapat digunakan untuk menguji kepatuhan pajak.

Darussalam mengingatkan bahwa melalui pendekatan cooperative compliance yang saling menghormati dan terbuka, data atau informasi dari wajib pajak akan mengalir dengan sendirinya. Alasannya, otoritas pajak akan mengganjar transparansi wajib pajak dengan kepastian dalam sistem pajak.

Pengelolaan data dan informasi pajak ini menjadi masalah serius saat ini. Terlebih, Indonesia masih berhadapan dengan tantangan shadow economy, hard to tax sector, dan informalitas.

Lewat tulisan ini, Darussalam mengajukan resep keberhasilan bagi pemerintah untuk mewujudkan tax state yang ideal. Darussalam meyakini bahwa konsistensi dan upaya yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan partisipasi, edukasi, narasi, serta mengatasi tantangan data/informasi akan mengembalikan peran pajak sebagai urat nadi pembangunan Indonesia.

"Mari jangan berpangku tangan dan melakukan pembiaran atas berkembangnya persepsi pajak sebagai beban. Pajak justru kebutuhan kita untuk membentuk masyarakat yang sejahtera," tutup Darussalam dalam tulisannya.

Pesan mengenai 4 permasalahan fundamental sistem pajak RI juga sempat dijelaskan oleh Darussalam melalui sesi wawancara khusus dengan DDTCNews. Simak, ‘Empat Masalah Fundamental Pajak RI: dari Edukasi ke Narasi Kebijakan’. (sap)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
user-comment-photo-profile
Vinata
baru saja
Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Darussalam atas kontribusi pemikirannya dalam buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia. Tulisan yang Bapak sampaikan memberikan pemahaman yang mendalam mengenai tantangan fundamental sistem pajak di Indonesia. Semoga gagasan dan rekomendasi ini dapat menjadi rujukan bagi para pemangku kepentingan dalam memperkuat sistem perpajakan nasional.
user-comment-photo-profile
Ihsanul Alvin Sofyan
baru saja
Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Darussalam atas kontribusi pemikiran yang dituangkan dalam buku "Pemikiran 100 Ekonom Indonesia". Tulisan Bapak Darussalam dalam buku tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan perpajakan tidak hanya terletak pada regulasi, tetapi juga pada fondasi sosial dan institusionalnya. Empat isu fundamental yang diangkat menunjukkan bahwa keberhasilan sistem pajak sangat bergantung pada kepercayaan publik, kualitas edukasi, kekuatan narasi, serta kesiapan data dan informasi. Bagi pembaca, khususnya generasi muda dan praktisi yang sedang belajar di bidang perpajakan, gagasan ini membuka pemahaman bahwa reformasi pajak adalah proses jangka panjang yang menuntut konsistensi, kolaborasi, dan perubahan cara pandang. Artikel ini tidak hanya informatif, tetapi juga mendorong refleksi tentang peran setiap pemangku kepentingan dalam membangun sistem pajak yang berkeadilan dan berkelanjutan.
user-comment-photo-profile
Yana Yosiyana
baru saja
Berkaitan dengan empat masalah fundamental yang diungkap oleh Bapak Darussalam melalui buku Pemikiran 100 ekonom Indonesia, terasa betul ‘masalah fundamental dalam sistem pajak RI’ mulai dari partisipasi publik, edukasi pajak, narasi positif pajak, hingga tantangan dan pengelolaan informasi yang saling berkaitan erat dalam membentuk sistem perpajakan yang lebih ideal, sehingga membuka wawasan kita sebagai pembaca. Selain itu, juga dipaparkan arah bagi transformasi kebijakan perpajakan di Indonesia. Semoga gagasan ini menjadi inspirasi bagi para pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan literasi dan kesadaran pajak demi mendukung pembangunan ekonomi nasional. Selamat kepada Bapak Darussalam yang telah menyumbangkan buah pikirannya untuk masa depan sejahteranya perpajakan RI.
user-comment-photo-profile
Ahmad Danang Sagita
baru saja
Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya untuk Bapak Darussalam atas kontribusi pemikirannya dalam buku “Pemikiran 100 Ekonom Indonesia”. Tulisan Bapak Darussalam benar-benar memberikan perspektif yang segar sekaligus tajam bagi kami para pembaca dan pemerhati kebijakan publik. Saya setuju sekali dengan empat permasalahan fundamental sistem pajak di Indonesia yang Bapak elaborasikan. Mulai dari rendahnya partisipasi publik, pentingnya edukasi pajak, minimnya narasi pajak yang mudah dipahami, hingga tantangan pengelolaan data yang semuanya memang menjadi isu krusial yang mendesak untuk dibenahi. Tanpa pondasi yang kuat pada aspek-aspek tersebut, reformasi perpajakan akan sulit mencapai titik optimal. Semoga melalui sumbangsih pemikiran ini, Indonesia dapat segera mewujudkan tax state yang ideal serta mampu menghadapi tantangan pertumbuhan ekonomi dengan lebih tangguh. Terima kasih, Bapak Darussalam, karena selalu konsisten menjadi rujukan dalam membangun literasi perpajakan.
user-comment-photo-profile
Athilla
baru saja
Apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Darussalam dalam Pemikiran 100 Ekonom Indonesia karena disampaikan secara mendalam dan visioner, dengan penekanan pada kepatuhan sukarela, transparansi, dan kepercayaan publik. Gagasan mengenai edukasi, tata kelola data, serta peran otoritas pajak memberikan pencerahan penting bagi perbaikan sistem perpajakan, sehingga pajak dapat berfungsi secara berkelanjutan sebagai tulang punggung pembangunan Indonesia. Terima kasih kepada Bapak Darussalam atas kontribusi pemikirannya dalam buku ini.
user-comment-photo-profile
Widia Nur Syepiani
baru saja
Buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia: Resiliensi Ekonomi Domestik sebagai Fondasi Menghadapi Gejolak Dunia patut diapresiasi karena secara ringkas dan sistematis menguraikan empat masalah fundamental sistem perpajakan Indonesia, yaitu rendahnya partisipasi publik dalam memaknai pajak sebagai kontrak sosial, belum optimalnya edukasi perpajakan yang inklusif, lemahnya narasi positif kebijakan pajak di ruang publik, serta tantangan pengelolaan data dan informasi dalam mendukung sistem self-assessment. Keempat isu tersebut diposisikan sebagai hambatan struktural yang memengaruhi efektivitas reformasi perpajakan dan kepatuhan sukarela wajib pajak. Melalui pendekatan konseptual yang dipadukan dengan pengalaman praktis, pemikiran Bapak Darussalam selaku Founder DDTC memperkaya diskursus akademik dan kebijakan perpajakan. Terima kasih dan apresiasi disampaikan atas kontribusi pemikiran yang bernilai bagi pengembangan sistem perpajakan Indonesia.
user-comment-photo-profile
Abdurrohman Shaleh Karnawidjaya
baru saja
Selamat kepada Bapak Darussalam atas kontribusinya dalam buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia. Apresiasi atas peran dan konsistensi beliau dalam memperkaya literatur ekonomi khusus nya mengenai perpajakan Indonesia serta mendorong diskursus kebijakan pajak yang lebih luas dan berkelanjutan. Kontribusi ini tentu bernilai penting bagi pengembangan pemikiran pajak di Indonesia.
user-comment-photo-profile
Felix Bahari
baru saja
Pandangan dan pesan yang disampaikan Bapak Darussalam dalam buku Pemikir 100 Ekonomi Indonesia sangat menarik dan relevan. Sehubungan dengan empat persoalan mendasar yang saling berkaitan dalam upaya membangun sistem perpajakan yang ideal kiranya meningkatkan kesadaran dan pemahaman kita mengenai isu perpajakan dalam konteks perekonomian Indonesia, terutama dalam mendorong perbaikan dan transformasi layanan perpajakan. Saya mengucapkan selamat kepada Bapak Darussalam dan terima kasih atas tulisan dan ide tersebut.
user-comment-photo-profile
fachry
baru saja
Selamat kepada Bapak Darussalam atas kontribusi pemikirannya dalam buku 'Pemikiran 100 Ekonom Indonesia'. Penjabaran mengenai empat masalah fundamental pajak yang meliputi partisipasi publik, edukasi yang belum inklusif, minimnya narasi pajak, serta tantangan pengelolaan data dan informasi ini disajikan dengan sangat relevan dan komprehensif. Terutama poin mengenai pentingnya membangun narasi positif agar pajak dilihat sebagai kebutuhan bernegara, bukan sekadar beban. Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada Bapak Darussalam, serta terima kasih atas perspektif mendalam yang sangat bermanfaat bagi kami.
user-comment-photo-profile
Wahyu Intan Maulidiyah
baru saja
Selamat kepada Bapak Darussalam atas kontribusinya dalam buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia. Saya sependapat dengan pandangan yang disampaikan bahwa pembenahan perpajakan Indonesia perlu dimulai dari penyelesaian masalah-masalah fundamental, seperti partisipasi publik, edukasi pajak, narasi kebijakan, dan pengelolaan data, karena aspek-aspek tersebut menjadi fondasi penting bagi efektivitas kebijakan dan peningkatan kepatuhan pajak. Sekali lagi selamat dan terima kasih kepada Bapak Darussalam atas kontribusinya melalui pemikiran ini.
user-comment-photo-profile
Rafli Amri
baru saja
Keren melihat para ekonom bersatu menyumbangkan ide lewat buku ini, termasuk kontribusi Founder DDTC, Bapak Darussalam, yang mengangkat berbagai persoalan mendasar dalam sistem pajak Indonesia. Dalam tulisannya, Bapak Darussalam menyoroti pentingnya membangun keterlibatan publik melalui edukasi yang lebih inklusif, narasi kebijakan yang lebih kuat, serta pengelolaan sistem yang makin tertata. Ketika pajak dipandang sebagai urat nadi negara, kehadiran negara dalam membangun kepercayaan publik menjadi hal yang krusial. Terima kasih atas insight dan ruang diskusi yang sangat menarik ini.
user-comment-photo-profile
Nadhyra Keisha
baru saja
Setuju sekali dengan empat permasalahan fundamental sistem pajak di Indonesia yang dielaborasikan oleh Bapak Darussalam sebagai salah satu ekonom yang telah menyumbangkan pemikirannya dalam buku “Pemikiran 100 Ekonom di Indonesia”. Mulai dari partisipasi publik yang belum optimal, edukasi pajak, minim narasi pajak, hingga tantangan pengolaan data ini masih menjadi isu penting yang harus dibenahi. Semoga lewat tulisan ini, Pemerintah Indonesia dapat mewujudkan tax state yang ideal dan juga dapat menghadapi berbagai tantangan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
user-comment-photo-profile
Muhammad Givary Diraga
baru saja
Selamat dan sukses kepada Bapak Darussalam atas kontribusinya melalui buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia, khususnya mengenai empat permasalahan fundamental sistem pajak di Indonesia. Insight yang disampaikan tentunya menjadi pengingat penting bagi otoritas pajak maupun seluruh elemen masyarakat untuk dijadikan bahan refleksi dan aksi nyata ke depan. Isu-isu mendasar yang dibahas memang berpengaruh signifikan terhadap efektivitas sistem perpajakan nasional, mulai dari partisipasi publik hingga tantangan dalam desain dan implementasi kebijakan pajak. Semoga tulisan yang dituangkan dalam buku ini tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga menjadi bahan evaluasi dan diskusi konstruktif demi reformasi sistem pajak yang lebih adil, transparan, dan berdampak bagi pembangunan nasional. Sekali lagi, saya ucapkan selamat dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kontribusinya.
user-comment-photo-profile
George Frederick
baru saja
Ulasan yang sangat inspiratif. Masalah kepastian hukum dan adaptasi terhadap ekonomi digital memang menjadi kunci utama reformasi pajak saat ini. Selain itu, penekanan beliau mengenai pentingnya efisiensi administrasi sangatlah relevan agar biaya kepatuhan tidak lagi menjadi beban bagi wajib pajak. Hal ini tentu menjadi fondasi krusial dalam memperluas basis pajak dan mengatasi tantangan shadow economy secara lebih efektif ke depannya. Terima kasih Pak Darussalam dan DDTC atas kontribusi pemikirannya dalam buku 100 Ekonom Indonesia ini.
user-comment-photo-profile
Romadlon Iqbal
baru saja
Apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada Bapak Darussalam yang telah berhasil menggeser paradigma pajak dari sekadar kewajiban administratif menjadi sebuah instrumen kontrak sosial yang humanis melalui ulasan mengenai pentingnya edukasi, narasi positif, dan integrasi data. Buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia ini tidak hanya memperkaya literatur ekonomi nasional, tetapi juga menjadi kompas strategis yang sangat relevan bagi pemerintah dan masyarakat dalam membangun sistem perpajakan yang lebih transparan, berkeadilan, dan berkelanjutan demi kesejahteraan bersama
user-comment-photo-profile
Alvin
baru saja
Selamat kepada Bapak Darussalam atas pendapat dan pemikiran yang tertuang dalam Buku "Pemikiran 100 Ekonom Indonesia". Pemikiran Bapak Darussalam dalam membahas empat isu utama sistem pajak Indonesia yaitu partisipasi masyarakat, pendidikan mengenai pajak, narasi kebijakan, serta pengelolaan data dan informasi menunjukkan analisis yang mendalam dan memiliki pandangan ke depan. Fokusnya pada kepatuhan sukarela, pembentukan narasi pajak yang positif, serta pentingnya transparansi dan tanggung jawab menunjukkan perhatian beliau terhadap peningkatan kepatuhan sukarela dan kelangsungan sistem perpajakan nasional. Gagasan ini memberikan sumbangan intelektual yang sangat berharga dalam upaya menjadikan pajak sebagai tulang punggung pembangunan Indonesia.
user-comment-photo-profile
Adhwaa Inggarlanti Hadi
baru saja
Selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Darussalam atas pemikiran yang dituangkan dalam buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia. Sangat setuju bahwa pajak harus dipandang lebih dari sekadar angka, tapi sebagai instrumen kepercayaan publik. Ulasan mengenai edukasi inklusif dan tata kelola data ini benar-benar menjadi pencerahan di tengah kompleksitas tantangan perpajakan kita saat ini. Bangga melihat DDTC terus konsisten mewarnai diskursus ekonomi nasional.
user-comment-photo-profile
Michael Sebastian Chang
baru saja
Suatu pendapat dan pesan yang sangat luar biasa dari Bapak Darussalam dalam perspektif dan pandangan yang dituliskan dalam Buku "Pemikiran 100 Ekonom Indonesia." Empat permasalahan fundamental yang dicantumkan pun saling berkaitan dalam hal menciptakan dan membentuk sistem perpajakan yang ideal, utamanya berkaitan dengan perlakuan dari otoritas perpajakan. Semoga melalui tulisan ini dapat meingkatkan pemahaman dan kesadaran atas permasalahan perpajakan kaitannya dengan perekonomian di Indonesia, utamanya dalam mengupayakam peningkatan dan transformasi pelayananan perpajakan di Indonesia. Sekali lagi saya ucapkan, selamat kepada Bapak Darussalam, serta terima kasih untuk buah pikiranmya yang sangat mencerahkan.
user-comment-photo-profile
Pieter Tjoegito
baru saja
Selamat kepada Bapak Darussalam atas terbitnya buku Pemikiran 100 Ekonom. Sangat insightful. Empat permasalahan fundamental yang diangkat—partisipasi publik yang belum optimal, edukasi pajak yang belum inklusif, minimnya narasi kebijakan pajak, serta pengelolaan data dan informasi—semoga dari keempat fundamental ini dapat terus dikembangkan di indonesia kedepannya.
user-comment-photo-profile
Puti Dewi
baru saja
Selamat kepada Bapak Darussalam atas kontribusinya dalam buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia melalui tulisan yang sangat insightful mengenai empat permasalahan fundamental sistem pajak di Indonesia. Ulasan tentang partisipasi publik, edukasi pajak yang inklusif, narasi kebijakan, hingga tantangan pengelolaan data disampaikan dengan jelas dan relevan dengan kondisi saat ini. Tulisan ini menjadi pengingat bahwa pajak bukan sekadar beban, melainkan fondasi penting dalam membangun kepercayaan, kepatuhan sukarela, dan kesejahteraan masyarakat. Kontribusi ini tentu membawa nama harum DDTC dalam kancah pemikiran ekonomi dan perpajakan nasional.