JAKARTA, DDTCNews - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan ekonomi Indonesia pada 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 5,11%.
Angka pertumbuhan itu lebih rendah dari target APBN 2025 yang dipatok sebesar 5,2%.
"Secara kumulatif, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh sebesar 5,11%," ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Rabu (5/2/2026).
Amalia melaporkan perekonomian Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada 2025 tercatat Rp23.821,1 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp13.580,5 triliun.
Menurut lapangan usaha, seluruh sektor tumbuh positif pada 2025, kecuali pertambangan. Sektor jasa lainnya mampu tumbuh 9,93%, disusul jasa perusahaan 9,10%, serta transportasi dan pergudangan 8,78%.
BPS juga mencatat lapangan usaha yang berkontribusi paling besar terhadap PDB adalah industri pengolahan mencapai 19,07%, diikuti perdagangan 13,17%, pertanian 13,10%, konstruksi 9,83%, dan pertambangan 8,75%.
Khusus pada kuartal IV/2025, BPS mencatat pertumbuhan ekonominya sebesar 5,39%. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku pada kuartal IV/2025 tercatat Rp6.147,2 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp3.474,5 triliun.
Dilihat dari pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha, seluruhnya mengalami pertumbuhan positif pada 2025, kecuali usaha pertambangan. BPS mencatat pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor transportasi dan pergudangan, disusul jasa lainnya, infokom, dan jasa keuangan.
"Pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2025 yang sebesar 5,39% ini merupakan pertumbuhan tahunan triwulan IV tertinggi pasca-pandemi Covid-19," kata Amalia.
Pertumbuhan ekonomi pada 2025 yang sebesar 5,11% ini lebih rendah dari proyeksi pemerintah yang mencapai 5,2%. Secara keseluruhan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat menyebut kondisi perekonomian Indonesia tetap stabil di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Mengenai perekonomian pada tahun ini, Purbaya memprediksi masih mampu tumbuh sesuai target sebesar 5,4%. Jika membidik angka pertumbuhan lebih tinggi, misalnya sebesar 6%, dia mengaku akan cukup menantang dan perlu upaya ekstra.
"Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diprakirakan meningkat menjadi 5,4% ditopang kenaikan pengenan domestik sejalan dengan berbagai sinergi kebijakan dari pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya," ujarnya, pekan lalu. (dik)
